Friday, December 26, 2014

Bahaya Silaturahmi Online

Berikut ini adalah sedikit pesan dari Mas Jaya Setiabudi yang beliau bagikan di group juragan forum bersama Jaya Setiabudi, selamat membaca:


————————————————–


Saya termasuk yang gemar mencari mereka yang ‘hilang’ jika berkunjung ke suatu kota.


Kira-kira 3 tahun lalu, saat Seminar di Gorontalo, saya ngebet banget cari seorang ibu, yang sudah hampir 10 tahun tak jumpa. Namanya Bu Ina, saya biasa memanggilnya Mami Ina. Kita sama-sama bekerja di Astra Microtronic Technology, Batam. Karena kita sama-sama perantauan, jadi para jombloers sering main, makan, tiduran di mess beliau yang hanya berjarak 5 rumah dari mess saya. Beliau semacam induk semang kita, hehe..


Parahnya, nomor hape beliau sudah tak aktif lagi seusai pensiun. Alamat juga tak valid. Hanya saja, bukanlah saya jika menyerah dengan mudah. Untungnya di Gorontalo, marga menjadi senjata yang ampuh untuk mencari seseorang. Berbekal itu, saya tanya ke beberapa kelurahan dan sesepuh disana. Berkendara ojek, saya sisir 1 persatu dan dapatlah alamat beliau.


Saat saya berada di depan pintu rumahnya, terkaget beliau, koq bisanya ketemu. Kemudian saya ajak seluruh keluarga untuk makan bersama di salah satu resto disana.


Itulah harga satu persaudaraan..!


Saya pernah tersinggung oleh seorang kawan yang saya temui setelah belasan tahun tak berjumpa. Dia mengatakan seperti ini, “Jay, kalo kamu udah kaya nanti, jangan lupain aku yaa..!”. Kemudian saya jawab, “Lha emang sekarang aku belum kaya? Toh aku yang nyari kamu duluan, bukan sebaliknya..!”. #PLAKK


Efek baiknya media sosial adalah menyambung silaturahim (tali kasih) yang mungkin telah terputus. Kawan lama yang hilang kontak, tahu-tahu nongol namanya saat kita cari di medsos. Foto-foto dan kabar mereka menghiasi hari-hari kita lagi.


Tapi anehnya, banyak yang berhenti sampai disitu saja. Ya, disitu saja, gak buat janji ketemu kek, ngopi-ngopi kek, lepas kangen kek. Bukan CLBK yaa..! Siapa tahu, bisa besanan, ada peluang bisnis yang bisa dikerjakan, atau sekedar berkumpul saja.


Bagaimanapun silaturahim fisik tak akan tergantikan oleh medsos (online), namun bisa melengkapinya. Apa jadinya jika silaturahim beralih ke online semua? Saat Anda sakit, tak ada yang menjenguk, hanya nongol di medsos “GWS ya bro/sis…”. Atau saat Anda menikah, mereka hanya berucap “Barokallaah..” via medsos lagi. Dan terakhir saat Anda meninggal, mereka melayat secara online juga. Baguskah?


Yuk kita ringan kaki untuk melangkah, jangan jadikan jarak, kesibukan sebagai alasan untuk memutus silaturahim.


Melalui artikel, saya mengajak Anda untuk menghidupkan Kopi Darat Komunitas Yukbisnis (Kopdar Yubi) di wilayah masing-masing. Sebisa mungkin saya atau tim akan hadir di acara-acara perdana, di kota Anda.


Kita hidupkan silaturahim, agar ikatan emosional kita semakin tinggi. Hal ini juga yang akan membendung persaingan-persaingan bisnis yang tak sehat, yang sekadar membanting harga sesaat.


Yukbisnis sudah membuat fitur komunitas. Kita akan terus menyempurnakan, apalagi jika banyak masukan berharga dari Anda.


Silakan klik www.Komunitas.Yukbisnis.com dan cari Komunitas Yubi Regional di kotamu.


Saya tunggu agenda Kopdarnya..


Jubes Yukbisnis

Jaya Setiabudi



Bahaya Silaturahmi Online

Tuesday, December 16, 2014

8 NILAI BERPARTNER DALAM BISNIS

Sumber Tulisan: Group Juragan Forum Bersama Jaya Setiabudi


Langsung saja bergabung dengan group tersebut untuk mendapatkan update artikel terbaru dari Mas Jaya Setiabudi.


Kenapa harus berpartner atau bermitra?


Kenapa tidak ambil sebagai karyawan saja? Itulah pertanyaan mendasarnya..



Berpartner dalam artian membagi saham (kepemilikan) seperti menikah dengan seseorang. Mereka hadir dalam kehidupan kita.


Jika tak cocok, tak bisa begitu saja dipecat, karena ada kepemilikan saham yang harus kita beli balik. Itu pun kalo dia mau.


Meski Anda memberi saham kosong (tanpa bayar), jika sudah masuk di akte notaris pendirian perusahaan, artinya sah sebagai pemilik.


Banyak bisnis yang bagus, namun gagal bertumbuh karena ada 2 (atau lebih) Jendral dalam 1 peperangan.


Atau berpartner dengan orang yang tidak kompeten atau komplimen (melengkapi) skill Anda. Hanya sekadar karena gak enak atau keceplos.


Parahnya kesepakatan bagi saham adalah RATA, tapi saat kerja TAK RATA. Ribut lagi..


Karena merasa tak mendapat KEADILAN, semangat mengembangkan bisnis pun pudar, tutup kemudian.. Buka sendiri-sendiri..


Atau.. berujung di pengadilan, baik perdata atau dicari-cari pidananya. Dulu kawan, sekarang lawan. True story..


“Jadi Mas J menyarankan untuk tidak berpartner?”


>> Tak ada 1 pun bisnis saya yang saya miliki sendiri. Nah loh.. terus..?


Inilah saran saya untuk menghindari hal-hal tadi saat berpartner..


MELENGKAPI: Pilihlah partner karena melengkapi skill yang tak Anda miliki. Misal Anda lemah di manajemen, cari yang jago manajemen.


TERUJI: Jangan buru-buru mengangkat seseorang sebagai pemegang saham. Bisa mulai dari konsultan, staff atau manager, setelah teruji dengan waktu, baru masukkan sebagai pemegang saham.


JELAS: Ada kejelasan Wewenang dan Kerjaan. Jelas juga siapa jendral yang memutuskan, siapa yang mentaati.


KOMPROMI: Berpartner itu seperti menikah, tak selalu sesuai dengan keinginan kita. 1 + 1 kadang jadi 1,75 sebelum bertumbuh menjadi 3 bahkan 10. Ada yang dikompromikan untuk menuju kemenangan bersama. Yang masih jomblo pasti susah bayanginnya.


KOMITMEN: Masih seperti menikah, sebisa mungkin memegang komitmen untuk tetap bertahan. Jangan sedikit-sedikit bilang ‘talak’. Kapan dewasanya…?!


LEGOWO: Keadilan menurut siapa? Kebenaran menurut siapa? Masing-masing punya versinya. Berbesar hatilah untuk mencapai tujuan yang besar. Mengalah bukan berarti kalah.


SPORTIF: Akui kesalahan, wong namanya juga manusia. Anggap dia saudara sendiri. Saling mengingatkan dengan cintaaahh..


PISAH BAIK-BAIK: Kalo memang tetap harus berpisah, hindari keributan. Mungkin dia bukan partner sampai tujuan, tapi partner Anda dalam perjalanan.


Angkatlah persaudaraan diatas uang. Jangan terbeli oleh uang dan membuat pembenaran nurani dalam kesalahan.


Berpartner tak harus sampai akhir, mungkin cukup sampai beberapa pulau ke depan, kemudian pisah dengan kenangan yang indah..


Let’s Grow Together.. with LoVe..


www.Yukbisnis.com


“Buka toko online semudah membuka tutup botol”




8 NILAI BERPARTNER DALAM BISNIS

Saturday, December 13, 2014

MLM ABAL-ABAL


Seperti apakah MLM abal-abal itu? Yuk simak pembahasan Mas jaya Setiabudi di group Juragan Forum Bersama Jaya Setiabudi.


MLM ABAL-ABAL


MLM sering disebut sebagai personal franchise (waralaba). Seperti saya bahas di buku Buka Langsung Laris, Formula ke 5, franchise dan MLM adalah saluran distribusi sekaligus promosi yang sangat fenomenal. Kenapa begitu? Karena sarana mengembangkan suatu usaha dengan ‘duit dan tenaganya orang lain’. Tak heran jika banyak pemilik (pendiri) franchise atau MLM yang kaya dalam tempo yang singkat. Franchise Tipu-tipu, sudah pernah saya bahas disini >>http://hot.yukbisnis.com/franchise-tipu-tipu/. Sekarang saya akan bahas hal MLM Abal-abal.


 photo gambarmlm.jpg


Karena MLM juga merupakan saluran distribusi, harusnya secara FUNDAMENTAL tetap menekankan pada PENJUALAN PRODUK. Jika kualitas produk tak bagus atau harga jauh lebih mahal daripada produk sejenis lainnya, ya buat apa beli disana? PELUANG USAHA? >> Nah, inilah jebakan batman dari MLM.


MLM yang memiliki Produk Ngangenin, tanpa iming-iming ‘Peluang Usaha’ pun, tetap akan bertumbuh dan STABIL. Contohnya: istri saya sampai sekarang masih membeli Nutrilite (produk dari Amway), K-Link, dan lainnya, meskipun tak menjalankan jaringannya. Tapi kemana yang namanya Network 21, salah satu sistem jaringan Amway yang duluuu.. paling terkenal? Menghilang, karena fokus ke ‘peluang usaha’, bukan fokus pada kelebihan produknya.


Saat MLM diselewengkan fokusnya untuk ‘membangun jaringan’ dengan iming-iming komisi jaringan yang menggiurkan, peluang usaha yang luar biasa berbusa, maka saat itulah jaringan tak akan bertahan lama, karena:

1. Vibrasi orang yang join berkarakter kaya instan.

2. Mereka mengejar uang dan bonus-bonus, sehingga terlalu agresif memasarkan dan menghancurkan jalinan pertemanan, serta membuat banyak pihak ‘alergi’ dengan kata MLM.

3. Saat kaya instan yang dijanjikan tak tercapai, mereka akan ngacir.

4. Rentan terhadap iming-iming skema MLM lain yang lebih menggiurkan.

5. Kecilnya angka ‘repeat order’, karena pelanggan membeli bukan karena produk yang ngangenin, tapi karena iming-iming peluang usaha semata.


Terpaksa mencari ‘korban’ di wilayah lainnya. Itulah Lingkaran Setan bisnis ‘perekrutan’..!


Ciri-ciri MLM Abal-abal:

1. Produk tak benar-benar menonjol, diutamakan peluang usaha (marketing plan).

2. Produk biasa (banyak di pasaran) tapi dibesar-besarkan tanpa bukti yang akurat. “Produk ini sangat luar biasa, direkomendasikan oleh profesor antah berantah dan bisa menyembuhkan segala jenis penyakit..”. *mulutnyaberbusa

3. Dijual lebih mahal dibanding harga produk sejenis, karena alokasi komisi yang besar, plus keserakahan pendiri (pemilik MLM).

4. Menawarkan lebih dari 1 hak bisnis. Ini cukup konyol, buat apa juga Anda beli hak bisnis 3 atau 7, jika produk yang dijual adalah sama dan ke pelanggan yang serupa? Tidak lain adalah untuk ‘pasang kaki’ dan melariskan pemilik MLM.


Jika Anda pelaku, insaflah, sebelum mencederai orang lain dan menghancurkan jaringanmu.


Jika Anda pendiri, insaflah, sebelum serapah mengenai keturunanmu.


Jika Anda calon korban, hindarilah, lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.


Yuk berbisnis yang berkah, memberdayakan dan memakmurkan orang-orang sekitar, bukan menghisap darah orang lain. Drakula donk…