Saturday, August 23, 2014

BAGAIMANA BISNIS CEPAT MELESAT?

Siapa yang tidak suka dengan bisnis yang cepat melesat? Pasti semua orang menginginkannya. Nah, sekarang bagaimana caranya agar bisnis cepat melesat? Yuk simak tips bisnis yang dibagikan oleh Mas Jaya Setiabudi berikut ini. Materi ini diambil dari Group Juragan Forum bersama Jaya Setiabudi.


BAGAIMANA BISNIS CEPAT MELESAT?


Alasan saya kenapa saya hijrah dari Batam ke Jawa, selain menghindari iklim politik dan lingkungan yang tak sehat di Batam adalah ingin meluaskan jaringan.

Dalam satu perbincangan dengan tetangga depan rumah, dia mengatakan kepada saya, “Mas, sampeyan itu seperti petinju tangguh yang gak punya DON KING”. Saya mengatakan, “Bener banget sampeyan. Tolong cariin DON KING-nya donk..!”



Don King adalah promotor tinju terkenal, yang membidani para jawara dunia, seperti Muhammad Ali, Mike Tyson, Evander Holyfield, Julio Cesar Chavez dan banyak lagi. Tugas promotor tak hanya mencari pendanaan, tapi juga mempertemukan pihak-pihak sehingga pertandingan berlangsung meriah dan sangat menguntungkan.


‘Kesalahan’ saya adalah terlalu lama (13 tahun) di Batam, sehingga jaringan bisnis saya tak berskala nasional. Saat saya memiliki ide berskala nasional, saya memerlukan resources, baik pemodal ataupun stake holder lainnya yang berada di pusat.


Misalnya: Yukbisnis membutuhkan programer, designer grafis, jaringan ke JNE, perbankan, pemasok, pemilik database pelanggan dan juga investor. Itu semua akan memperlambat gerak jika jaringan saya terbatas.

TWITTER salah satu yang mempercepat pertumbuhan jaringan saya.


TAPIIII..


Seakrab-akrab hubungan online tak akan mengalahkan hubungan offline. Kata-kata (TEXT) hanyalah mewakili 7% dari elemen komunikasi.


Disitulah saya menargetkan diri saya untuk setidaknya melakukan kegiatan NETWORKING sekali sebulan. Baik dalam acara komunitas ataupun atur janji kunjungan dengan kawan-kawan pengusaha lainnya.


Dengan jaringan yang LUAS, maka akan lebih cepat AKSES INFORMASI yang kita dapatkan. Ada perlu apa? Just PHONE FRIENDS..!


Sejak tahun 2005, kami bentuk Entrepreneur Association di Batam, sekarang aktif di lebih dari 10 kota. Per tahun ini, EA tampil dengan format yang berbeda: TIDAK ADA PERTEMUAN YANG GRATIS..!!!


 photo bagaimanabisniscepatmelesat.jpg


Karena pertemuan gratis akan menurunkan kualitas jaringan (mental gratisan) dan kenyamanan (venue) saat acara. Kesannya seperti MATRE, tapi kalo dipikir dengan jernih, justru mendongkrak manfaat dari kualitas peserta yang hadir.


Jangan takut, acara-acara yang diadakan oleh EA, bukanlah komersial, karena kita adalah “organisasi tak boleh profit” >> yang boleh profit, anggotanya saja, hehe..




BAGAIMANA BISNIS CEPAT MELESAT?

Saturday, August 16, 2014

Bangga Indonesia

Yuk simak Cerita sekaligus ajakan dari Mas Jaya Setiabudi agar kita bangga menggunakan produk-produk Indonesia. Cerita ini di sampaikan Mas Jaya Setaibudi di Group Forum Jaya Setiabudi.


 photo BanggaIndonesia.jpg


Pada suatu perbincangan udara di pesawat Garuda Indonesia, Bang Sandi (sapaan saya untuk Sandiaga S. Uno) menanyakan kepada saya, ”Sepatunya kelihatan enak Mas.. Buatan mana itu?”. Saya menjawab, “Kalau mereknya sih US, tapi mungkin udah buatan China.”. Beliau bergumam dan berkomentar, “Hmm.. dulu saya juga pakai merek luar, sampai ketemu Pak JK dan ditegur: Nih, buatan Cibaduyut, Indonesia asli. Sejak itu saya pakai produk (merek) Indonesia..”. Percakapan penutup perpisahan kita di pesawat tersebut membuat saya merenung. Seorang konglomerat sekelas Sandiaga dan mantan wakil presiden Jusuf Kalla, dengan bangganya menunjukkan fashion mereka yang berciri khas Indonesia, koq saya berbangga ria dengan merek luar?



Kenapa kita sampai kehilanggan kebanggaan terhadap merek Indonesia dan membanggakan merek luar negeri? Kualitas? Jelas banyak merek luar yang diimpor dari Indonesia, seperti Zara, yang sebagian produknya diproduksi oleh PT. Sri Rejeki Isman (Sritex), Sukoharjo, Jawa Tengah. Bahkan perusahaan yang sama juga memproduksi pakaian militer untuk NATO. Sepatu merek Adidas, Nike, furniture Ikea, jeans Hugo Boss, Giorgio Armani, Guess adalah deretan merek ternama yang sebagian produknya diproduksi di Indonesia. Jadi hal kualitas, tak usah diragukan lagi. Bagaimana dengan ‘gengsi’ terhadap merek Indonesia Asli? Merek-merek Indonesia seperti Dowa, Bagteria, Cast Eyewear, terbukti jadi kegemaran artis Hollywood sekelas Paris Hilton, Tyra Banks, Rihanna, hingga Lady Gaga. Masih banyak merek asli Indonesia yang pantas dibanggakan dan pantas menaikkan gengsi kita.


Jika masyaratkat Indonesia sanggup melepaskan diri dari ‘belenggu’ kebanggaan merek luar dan beralih bangga menggunakan merek Indonesia, maka perekonomian Indonesia akan semakin maju. Pada saat permintaan terhadap merek lokal meningkat, volume produksi juga meningkat, efisiensi akan tercapai, sehingga harga juga akan lebih ekonomis.


Pertanyaannya, mulai dari mana? Mulai scanning dari ujung kaki hingga ujung rambut kita, mana yang bisa menggunakan merek dalam negeri? Tanamkan dalam benak kita, “Sungguh NISTA menggunakan merek luar dan BANGGA menggunakan merek Indonesia..!”. Hingga setiap akan membeli suatu produk, kita akan berfikir ulang, pilih NISTA atau BANGGA..? Rapatkan barisan, kita buat gerakan Bangga INDOnesia. Bangga menggunakan Merek INDO, agar positioning merek Indonesia terdongkrak. Tak usah mencibir produk Indonesia, lebih baik tanyakan apa kontribusi kita untuk Indonesia?


Tumbuhkan UKM Indonesia, entaskan pengangguran, stabilkan perekonomian, lepaskan ketergantungan. Nista pakai merek impor, Bangga pakai merek Indonesia.


M.E.R.D.E.K.A




Bangga Indonesia

Saturday, August 9, 2014

Membuat Headline yang Mendongkrak Konversi

Materi “Membuat Headline yang Mendongkrak Konversi” ini merupakan pembahasan lebih mendalam dari tema The Magic of CopyWriting. Materi ini diambil dari akun twitter Mas Jaya Setiabudi @JayaYEA.


———————


  1. Headline dalam suatu iklan pada prinsipnya harus mentrigger bawah sadar calon konsumen. Seperti apa?

  2. Pada dasarnya manusia memiliki 2 hal: Kebutuhan & Keinginan”. Menjual keinginan jelas lebih mudah dari kebutuhan.

  3. Contohnya: fashion, gadget, tv >> gak perlu repot menjual. Asal ada visual + diskon + kemudahan payment = closing.

  4. Beda skali dg menjual KEBUTUHAN >> Orang sering tidak sadar bhw dia memerlukannya. Misal: pendidikan, kesehatan.

  5. Jika Kebutuhan bertemu Keinginan, dalam arti si calon pembeli SADAR dia Butuh & Ingin beli, tinggal tunggu MAMPU saja.

  6. Nah, yg jd tantangan adalah bagaimana menjual kebutuhan banyak orang yg mereka sendiri MERASA tak membutuhkan.

  7. Poblemnya lagi adalah Bagaimana menarik perhatian mereka untuk membaca iklan kita dengan melihat dlm sekejap.

  8. Misal Anda menjual ASURANSI JIWA via Twit. apa yg akan Anda gunakan u/ menarik mrk mengeklik artikel Anda?

  9. Makasih yg udah beri contoh. Coba tanyakan: Apakah pembaca iklan itu akan tertarik untuk mengeKLIK artikel Anda stlh itu?

  10. Bicara ttg saya refer Anda belajar dengan ‘KORAN MERAH’ >> mereka begitu menggoda, sayang isinya gak karuan..

  11. Misal: “Nenek2 diperkosa 3 orang pemuda”, “Setelah 3 hari meninggal, udin bangkit lagi” >> penasaran kan?

  12. Tentu saya tak mengajari Anda berbohong, tapi ambil maknanya “Apa sih yg menjadi TRIGGER seorang calon konsumen mengeKLIK?”

  13. Misal, target pasar Anda adalah: laki2, 25-35, profesional perusahaan. Dan Anda akan menawarkan asuransi, bisa spt ini nya >>

  14. “Seorang ayah kecelakaan saat pulang kerja, anak putus sekolah, istri jadi TKW di Arab..” [link klik]

  15. Jika Anda adalah seroang ayah & pekerja, apakah Anda akan membaca kelanjutan kisah itu? Tugas adalah membuat penasaran..

  16. Baca ulang twit saya dengan perlahan, pahami maknanya >> Apakah pesan Anda akan sampai di benak calon konsumen? bersambung..


Membuat Headline yang Mendongkrak Konversi

Friday, August 8, 2014

KENAPA BISA BANGKRUT ATAU GAGAL? (2)

Pembahasan ini merupakan lanjutan dari tulisan Mas Jaya Setiabudi sebelumnya dengan judul yang sama. Bagi yang belum membaca bagian pertama, silahkan klik di sini.


————————-


Jadi sudah wajar apabila seorang yang mengambil TANTANGAN lebih tinggi, maka punya resiko untuk jatuh, betul? Nah, lebih dalam lagi, mari kita telusuri 3 Faktor “Kenapa kita Gagal atau Bangkrut”? 3 Faktor ini saya ambil dari buku saya kedua: Kitab AntiBangkrut, namun dengan tulisan bebas saya..


1. FAKTOR BUMI

Allah menurunkan aturan-aturan di alam semesta (sunatullah), seperti sebab akibat, gravitasi, pemasaran, manajemen, biologi dan tak terhingga lainnya. Masing-masing hukum alam tersebut masih bisa bergeser dikarenakan suatu kejadian/kondisi tertentu. Misalnya: ilmu pemasaran menjadi bergeser dan berantakan saat hadirnya internet, apalagi social media. Peta persaingan tak hanya toko tetangga seberang, namun juga di pulau dan benua lain.


Kekurangan kita dalam ‘ilmu bumi’ menjadi salah satu faktor kegagalan kita. Antisipasinya? Ya belajar lebih detail bidang/pekerjaan yang akan kita terjuni. UPDATE ilmu terbaru seperti meng-update operating system (OS) secara berkala. Apa yang Anda pelajari tahun lalu, bisa jadi sudah usang di tahun ini.


Saya juga berkomitmen mengikuti training setidaknya 2 kali dalam setahun. Training ya, bukan seminar sehari. Selain itu, gadget saya juga penuh aplikasi pembelajaran. Ada perasaan berdosa, jika saya tak bertumbuh tiap harinya.


2. FAKTOR MANUSIA

Seringkali, kita sudah tahu ilmunya, ehh masih dilanggar. Sudah tahu kalau bagian kasir harus dipisah dengan bagian akunting (laporan keuangan), ehh masih juga dilanggar. Jadilah manipulasi laporan keuangan. Sudah tahu kalau kebanyakan tenaga penjual punya kecenderungan kurang bisa mengelola uang, ehh masih aja duit menginap. kecolongan deh. Sudah tahu ketegasan itu hal yang mutlak bagi seorang pemimpin, masih over dosis toleransi, karena ‘gak enakan’. Jadilah virus merajalela..


3. FAKTOR LANGIT

Sesempurna ikhtiar kita pun, tak ada hak sedikit pun bagi kita untuk menentukan HASIL. Karena hasil adalah Hak Mutlak Allah. Maka dari itu, bertawakal harusnya diletakkan sebelum berikhtiar. Berpasrah apapun hasilnya, kemudian menyempurnakan ikhtiar. Memang benar banyak amalan yang dapat mempermudah jalan rejeki kita, namun tetap itu bukan hak kita untuk menuntut balas atas amalan kita. Apalagi, kita tak tahu mana yang terbaik bagi kita dimasa mendatang, kenapa harus mengatur keputusan Allah?


Tugas kita dalam memperbaiki faktor langit adalah dengan ‘mencari muka’ kepada Sang Pencipta, yaitu dengan melakukan segala perintah dan menjauhi segala larangan, ditambah sunnah dari nabi yang menjadi kekasih-Nya.


Dengan memahami ketiga faktor tersebut, justru harusnya kita semakin lebih yakin dan berani melangkah. Karena setiap kegagalan kita akan menjadi pertumbuhan mental dan spiritual kita. Semoga kita dapat membersihkan hati, melompat bukan untuk sekadar mengejar pencapaian duniawi, apalagi pembuktian kepada manusia, tapi diniatkan ibadah untuk terus bertumbuh dan belajar ilmu Allah, yang diturunkan di bumi.


Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. hehe..



KENAPA BISA BANGKRUT ATAU GAGAL? (2)

Thursday, August 7, 2014

The Magic of Copywriting

The Magic of Copywriting adalah Ebook terbaru dari Mas Jaya Setiabudi. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh mas Jaya Setiabudi di Gorup Juragan Forum bersama Jaya Setiabudi di bawah ini.


————————-


Barusan merevisi formula Anatomi Sales Script. Sedang saya uji coba ke beberapa produk. Jika angka konversinya berubah drastis, baru akan saya terbitkan ebooknya. Judulnya juga belum dapat yang pas. Sementara masih “The Magic of Copywriting, Menjual Tanpa Tatap Muka”.


Masing-masing elemen anatomi akan saya jabarkan dengan detail contoh-contoh kasus. Semoga menjadi lompatan omzet bagi pengusaha & pemasar online.


Ada masukan kah?


Ebook The Magic of Copywriting


The Magic of Copywriting



The Magic of Copywriting

Sunday, August 3, 2014

Tiga Tipe Penjual

Materi ini diambil dari group Juragan Forum bersama Jaya Setiabudi. Yang belum bergabung, langsung saja bergabung. Akan banyak tips bisnis rutin yang dibagikan oleh Mas Jaya Setiabudi.


3 TIPE PENJUAL


Coba amati 3 tipe ini, kemudian kita diskusikan..


 photo TigaTipePenjualYEAXPro.jpg


Jika melihat table 3 Tipe Penjual (di posting sebelumnya), pasti kebanyakan ingin menjadi tipe Konsultan, kenapa? Karena pada dasarnya kita sebagai pembeli tak mau di ‘bully’ dan sebagai penjual tak mau dibenci. Tapi pada kenyataannya, masih banyak tipe penjual ‘pengejar order’ alias “pokoknya harus closing..!”.


Pengejar Order


Ntah alasannya kepepet, ngejar komisi atau pun punya keyakinan/alasan super bahwa produknya dijamin dapat memberikan solusi bagi konsumen. Terutama bagi mereka yang telah ‘tercuci otak’ oleh sebagian kelompok penjualan dengan iming-iming komisi dan atau bonus rekrut plus jalan-jalan keluar negeri, serta mobil BMW (biasanya merek ini yang paling sering disebut). Seperti inilah skrip penjualan pengejar order:


“Produk ini sangat super bagus sekali..! Direkomendasikan langsung oleh Profesor XYZ dari antah berantah dan sudah digunakan oleh orang-orang terkenal sebelumnya. Mendapatkan ribuan penghargaan internasional (mbuh dari mana). Bisa menyembuhkan segala macam penyakit (kecuali takabur) dan sangat luar biasa kuadrat..” >> sambil mulutnya berbusa, he he..


Anehnya, makhluk pengejar order ini koq gak ada habisnya, gugur 1 tumbuh seribu. Yang paling menjengkelkan adalah mengatasnamakan ‘Peri Penolong’. Wajar saja jika para konsumen pun akan mewartakan, “Jangan dekat-dekat, ntar diprospek..!”.


Bagaimana jika kita jual produk yang kemungkinan hanya sekali berjumpa dengan konsumen, misalnya di tempat wisata, menjual cinderamata dengan cara super ngeyel? Ya silakan saja, bukan benar atau salah, adanya konsekuensi disumpahi, mau? Buat apa barang kita laku, tapi transaksi itu menjadi tidak berkah, sebaliknya serapah.


Profesional


Dikerjar target tak harus mengorbankan hubungan baik. Tipe perofesional adalah solusinya. Carilah target pasar yang tepat, itulah kuncinya. Jangan tawarkan popok bayi kepada mereka yang belum menikah. Jangan tawarkan perhiasan kepada mereka yang buat makan aja pas-pasan.


Jika target pasar sudah tepat, selanjutnya adalah bagaimana menyampaikan pesan bahwa mereka membutuhkan produk Anda. Menjual dengan memberikan informasi yang dibutuhkan lebih elegan daripada hanya sekedar suka dengan Anda. Karena lebih bisa diduplikasi kedepannya. Tentu saja jangan abaikan ilmu komunikasi (pacing – leading).


Konsultan


Alangkah indahnya, jika setiap uang yang kita dapatkan dari penjualan berbonus doa dari konsumen. “Makasih ya udah ditunjukkan produk yang pas. Semoga Allah melimpahkan rejekimu. Jangan sungkan kalau ada yang bisa kubantu..”


Menjadi penjual tipe konsultan, tentu memakan waktu lebih lama daripada tipe pengejar order. Tapi fondasi yang dibangun karena menebar manfaat dan kepuasanlah yang membuat rejeki lebih langgeng. Tak ada yang benar atau pun salah. Adanya adalah konsekuensi/akibat dari suatu tindakan. Tentu tak semua pembeli juga suka dilayani oleh tipe konsultan yang apa adanya. Kadang konsumen ingin tetap berjarak dan ‘dijilat’ atau disanjung meskipun itu bohong.


Saya masih sering mengkombinasikan tipe professional dan konsultan, tergantung konsumen suka yang mana. Karena kepuasan memiliki sifat subyektif, bukan obyektif. Masing-masing pelanggan berbeda.


Kembalilah ke definisi apa itu Pemasaran. Bukan sekedar produk laku, tapi bagaimana memuaskan pelanggan dan menguntungkan perusahaan. Tidak salah satunya, tapi keduanya. Jika tidak terpenuhi, lebih baik “No Deal”.


Dalam suatu percakapan dengan pelanggan saya..


Bapak : Mas J, dimana cari barang seperti ini?

Saya : Oh di toko A ada Bapak.

Bapak : Kalau di tempat Mas J ada?

Saya : Saya juga ambil dari dia Bapak.

Bapak : Terus kalau mau ambil dari Mas J, lebih mahalkah?

Saya : Pasti Bapak, kira-kira 10% lebih mahal.

Bapak : Ya udah gak papa, kirim ya barangnya..

Saya : Siap..!


Laku juga tuh..


————-



Tiga Tipe Penjual

Saturday, August 2, 2014

Apakah Kamu Dinosaurus?

Dunia terus berubah. Jika kita juga tidak berubah maka kita akan punah layaknya Dinosaurus. Yuk simak tips sukses dari Jaya Setiabudi dalam melakukan perubahan diri berikut ini.


—————————————————


 photo tipssuksesJayasetiabudi.jpg


“Saya sudah begini ya begini” atau “Saya lebih nyaman seperti ini..”


Itulah kata-kata Dinosaurus berjuta tahun lalu sebelum punah..



Perubahan memang tidak nyaman, tapi tak ada pilihan selain menyesuaikan, kecuali kita siap punah..


Contohnya social media, siapa yang tak menggunakannya, segera mereka akan tertinggal dan binasa. Kenapa? Karena social media memberikan LEVERAGE bagi bisnis kita. Menembus ruang dan waktu, eksponensial, bukan linier..


Teknologi yang kita unggulkan dimasa lalu, jika tak mengikuti tren, maka akan punah dimasa kini. Saya pun awalnya merasa tak nyaman menggunakan Android, tapi ‘dipaksa’ oleh tren untuk menggunakannya, jika ingin dapat leverage-nya.


Anda cukup punya tablet pc dan Anda akan mendapat ilmu gratis tak terbatas. Ralat, sebatas memori dan pulsa Anda.. . Tapi jangan gunakan Tabletmu untuk bermain game >> jaminan waktumu terbuang percuma dan jadi dinosaurus lagi.. ‪#‎JebakanTablet‬


Jangan protes pada perubahan atau melawannya. Justru syukuri perubahan sebagai sarana akselerasi. Kuncinya: Kemauan Belajar..


Om Kiyosaki bilang, “Jika ingin tau kemana tren mengarah, lihatlah anak muda..” >> Saya juga masih muda Om. *ngedot


Sudah, saya mau lari dulu.. Kalo kamu masih mau ngesot, yaa silakan, tapi jangan narik-narik kakiku donk.. he he..


Keep Moving Guys..!




Apakah Kamu Dinosaurus?

Friday, August 1, 2014

3 Hal Penting Tentang Kepemimpinan

Setiap bisnis membutuhkan kepemimpinan yang kuat. Yuk kita simka tips tentang kepemimpinan dari Jaya Setiabudi berikut ini.

———————
 photo tentangkepemimpinan.jpg


Demo karyawan itu, selain HASUTAN pihak ketiga adalah KELEMAHAN KEPEMIMPINAN..


Jika saya sudah membahas dari sisi saya sebagai ex-buruh. Saat ini saya akan sharing dari sisi pengusaha. Ilmu ini saya dapatkan dari almarhum ayah dan kakak ketiga saya. Alhamdulillaah saya memiliki tim yang loyal dan totalitas. No Demo pastinya…


1. ANGKA CUKUP


Ayah saya berpesan saat saya masih kuliah:


“Kalo kamu jadi bos nanti, jangan bayar karyawanmu dibawah angka kebutuhannya…”


Hal itu yang selalu saya ingat. Jadi setiap merekrut karyawan, saya akan menanyakan: “Berapa ANGKA CUKUPMU..?”


Jika mereka menyebutkan lebih tinggi dari kemampuan saya membayar, saya tak akan menerima (atau menawar). Daripada saya terima mereka, ternyata kebutuhan (ataupun keinginan) mereka tak tercukupi, maka akan jadi bumerang buat saya nantinya.


Seorang yang senantiasa bersyukur, akan bisa membedakan antara kebutuhan (cukup) dan keinginan (harapan).


Misalnya, dia minta Rp. 3,5 juta dan saya hanya mampu Rp. 2,5 juta, maka saya lebih memilih untuk tidak menawar dan tak menerima.


Sebaliknya apabila mereka menyebutkan ‘angka cukup’ mereka dibawah angka standar sesuai posisi (dan skill) yang saya perlukan, maka saya akan membayar lebih.


Pernah seorang programmer saya menyebut ‘angka cukupnya’ 1,5 juta perbulan dan saya memberikan 3 juta perbulan kepadanya. Begitu juga dengan beberapa karyawan saya lainnya..


2. JANGAN BEKERJA UNTUK PERUSAHAAN


“Jika kamu bekerja keras, lembur tanpa gaji, berjuang untuk memajukan perusahaan dan ternyata atasanmu tak menghargai atau mengabaikanmu, kecewakah kamu?”


Itulah pertanyaan saya kepada tim saya yang baru masuk.


Jika mereka bekerja untuk saya atau perusahaan, maka mereka akan kecewa saat saya tak menghargai (subyektif) mereka di kemudian hari.


Tapi jika mereka bekerja untuk mengasah ketrampilan mereka, meski lembur tanpa dibayar pun, mereka tak merasa rugi. Kenapa? Karena mereka bertumbuh setiap harinya.


Saya menekankan, “Toh jika kemampuanmu bertumbuh dan aku tak menghargaimu, in sya Allah orang/perusahaan lain akan melirikmu.” >> Sah saja..


3. MANUSIAKAN MANUSIA


Saya berani jamin, berapapun gaji mereka Anda naikkan, selalu ada ketidakpuasan. Sebaliknya, di beberapa perusahaan yang masih menggaji pas-pasan, tapi karyawannya betah dan hepi-hepi saja. Koq bisa?

Saya belajar dari ayah dan kakak ketiga saya dalam hal ini. Seperti kisah khalifah Umar bin Khatab, ayah dan kakak saya adalah figur pemimpin empati yang ‘blusukan’, membaur bersama pekerja.


Saat ayah saya barusan bekerja di pabrik kayu, dia mengembalikan mobil fasilitas kantor dan memilih jalan kaki atau pinjam sepeda satpam untuk pulang ke rumah kontrakan. Saya bertanya:


“Kenapa papah balikin mobil dinasnya?”


Ayah saya menjawab:


“Lha mereka (buruh) masih dibayar dibawah UMR, koq papah baru datang (bergabung ke perusahaan), udah naik mobil sedan. Pasti mereka akan cemburu dan papah susah membaurnya.”


Mereka berdua kerap membawa makanan dan minuman saat pekerja lembur atau menengok dan membantu mereka yang sedang sakit. Tak seberapa dibandingkan kenaikan gaji, tapi efek emosionalnya luar biasa.


Hal itu membuahkan hasil. Saat seluruh pabrik di lingkungan industri, kakak saya bekerja, pada demo, hanya buruh di pabrik kakak saya yang tak ikutan demo. True story..!


Semoga saya dapat meneladani mereka, menjadi pemimpin yang dicintai, bukan karena uang.. >> Matre



3 Hal Penting Tentang Kepemimpinan